What's Your Number? Check This Out

Senin, 22 Juli 2013

Tugas Kelompok Ku: Resume "Efek dari Radiasi Ultraviolet C terhadap Hama pada Produk yang Disimpan" (The Effect of Ultraviolet C Radiation on Stored-Product Pests) (Biologi Radiasi)

RESUME JURNAL BIOLOGI RADIASI
Efek dari Radiasi Ultraviolet C terhadap Hama pada Produk yang Disimpan
(The Effect of Ultraviolet C Radiation on Stored-Product Pests)



Disusun Oleh:
Kelompok 10
                                      Ayu Andriyani                       M0412012
                                      Chika Annisa K                     M0410011
                                      Diana Putri H                        M0410018
                                      Putri Delina S                        M0410050
                                      Uswatun Hasanah                 M0412078


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2013




A.    Latar Belakang
Strategi pengelolaan pertanian terpadu sangat penting untuk penyimpanan komoditas pasca panen. Namun, jumlah pestisida saat ini yang disetujui untuk perlindungan komoditas yang disimpan sangat terbatas. Pada prinsipnya, radiasi ultraviolet C (UVC) dapat memberikan cara yang efektif untuk memerangi infestasi hama yang berkaitan dengan struktur bangunan dan dapat berfungsi sebagai kebersihan baru yang potensial dalam mengukur populasi hama. UVC adalah panjang gelombang radiasi (100-280 nm) pendek dan terutama digunakan untuk desinfektan udara, permukaan dan cairan dari kontaminan mikroba. UV menghancurkan DNA bakteri dan kontaminan mikroba lainnya, sehingga mencegah replikasi lebih lanjut dan dapat menghambat pertumbuhan. Penggunaan radiasi UVC sebagai metode pengendalian hama belum diteliti karena persepsi risiko kesehatan manusia dan kurangnya penetrasi melalui substrat. Kemanjuran UVC sebelumnya telah terdemonstrasi mampu membunuh tungau debu, beberapa kumbang dan hama tungau. Kepekaan terhadap UVC ditentukan oleh transmitansi membran permukaan dan kehadiran substrat sensitif (Beard, 1972). Pengaruh UVC pada spora jamur juga diketahui bervariasi antara genus, dengan perbedaan spora yang berdinding tipis dan memiliki pigmentasi ringan menjadi yang paling sensitif terhadap UVC (Begum et al., 2009). Telur berusia antara 72 dan 96 jam jauh lebih sensitif terhadap kerusakan UV-induced. Telur ditempatkan di daerah terang setelah paparan radiasi oleh UVC memerlukan waktu pencahayaan yang lebih lama untuk menghasilkan efek mematikan setara dari yang ditempatkan dalam tempat gelap (Bruce dan Lum, 1978).
B.     Tujuan
Tujuan percobaan dari jurnal ini adalah untuk menilai pengaruh UVC pada pengembangan dan produksi keturunan dua spesies kumbang dan hama tungau. Foto-reaktivasi dan efek dari substrat juga diselidiki, seperti efek pada perkecambahan spora jamur mikotoksin yang diproduksi.

C.    Metodologi
Hama yang digunakan adalah strain dari Oryzaephilus surinamensis, Tribolium castaneum, Acarus siro, dan Tyrophagus putrescentiae. Dengan kondisi laboratorium (25 ± 2oC ) dan (70 ± 5 % r.h. ) untuk kumbang serta (15 ± 2oC dan 90 ± 5% r.h.) untuk tungau tanpa menggunakan pestida. Menggunakan spora jamur Penicilium verrucosum. Sumber sinar UV-nya yakni UVP CX-2000 Crosslinker, panjang gelombang 254 nm. Uji sampel dilakukan dengan meletakkan kira-kira 9 cm dari bawah sumber sinar.
1.      Percobaan untuk meneliti efek dari perkembangan : 20 telur dari setiap spesies kumbang (berumur 24 jam) dan tungau (berumur 72 jam) yang diletakkan terpisah dalam petri dish (diameter 48 mm, tinggi 18 mm) dan sel tungau. 6 ulangan disiapkan untuk setiap dosis UVC, mencangkup kontrol yang tidak diberi perlakuan. Dish dan sel yang mengandung telur satu per satu diletakkan dibawah sumber cahaya (tanpa penutup) dan disinari dengan 5 tingkat energi yang berbeda (10.000, 20.000, 40.000, 60.000 and 120.000 μJ cm-2 untuk kumbang; 2000, 4000, 8000, 16.000 and 20.000 μJ cm2 untuk T. putrescentiae dan 500, 1000, 1500, 2000 dan 4000 μJ cm2 untuk A. siro). Setelah penyinaran, telur kumbang dipindahkan ke dalam toples bioassay (120 mL), ditambahkan makanan pada sel telur tungau. Telur diinkubasi sampai dewasa. telur yang diinkubasi di kegelapan atau ditutupi diberi makanan (1 gr untuk kumbang, 0.03 gr untuk tungau) lebih dahulu diberi perlakuan. Dosis yang efektif (ED) diperlukan untuk menghasilkan 50% dan 95% kematian setiap spesies hama.
2.      Percobaan untuk Efek dari UVC pada hasil keturunan: Satu pasangan virgin pada setiap spesies (6 hari untuk kumbang, 24 jam untuk tungau) untuk dipertemukan, Jantan dan betina dipisahkan, serangga betina dan tungau diletakkan tersendiri dalam petri dish dan sel tungau. 10 ulangan disiapkan untuk setiap spesies hama dan diberi perlakuan (mencangkup kontrol yang tidak diberi perlakuan). Betina disinari UVC untuk waktu periode sub-letal (2 jam untuk kumbang, 12 detik untuk tungau). Makanan ditambahkan dan uji sampel diinkubasi sampai perkembangan F1.
3.      Percobaan untuk Efek UVC pada Penicillium verrucosum: agar-agar diinokulasi dengan kira-kira 1.000 spora per plate. Spora disebarkan sekitar tengah dari plate, 5 ulangan disiapkan untuk setiap perlakuan termasuk yang tidak diberi perlakuan. Plate diletakkan satu per satu dan dibuka dibawah sumber cahaya, disinari untuk 5 tingkat yang berbeda (5.000, 10.000, 15.000, 20.000 and 25,000 μJ cm-2). Plate diinkubasi 24 jam di suhu ruangan (20oC) dan 100 spora per plate diperkirakan secara mikroskopik untuk perkecambahan. Perkecambahan dihitung diulangi setelah 2 hari. ED diperlukan untuk mengurangi perkecambahan spora dengan 50% dan 95%.
D.    Hasil dan Pembahasan
1.      Efek UVC pada perkembangan : Angka ED95 (Effectif Dosis) merubah spesies dengan 96.549, 59.069, 22.014 and 3.802 μJ cm-2 yang dihitung untuk O. surinamensis, T.castaneum, T. putrescentiae dan A. siro, ketika disinari. Perbedaan yang signifikan (P< 0,05) terjadi pada kematian saat diinkubasi pada keadaan terang dan gelap hanya diamati pada T.putrescentiae, dengan ED95s dari 22.014 and 14.290 μJ cm-2. Nilai ED merubah secara luas pada spesies tungau yang lebih sensitif daripada kumbang. Efek pada perkembangan berkurang ketika makanan tersedia saat ditunjukkan oleh kemampuan penetasi terbatas pada UVC melalui substat. Urutan untuk perlakuan lebih efektif, jika hama mengalami kontak langsung dengan UVC untuk waktu yang dibutuhkan atau dosi yang lebih tinggi yang mungkin diperlukan.
2.      Efek UVC pada keturunan yang dihasilkan : banyak variasi dari keturunan yang dihasilkan antara setiap ulangan. Dengan A.siro, ada pengurangan yang signifikan (P< 0,05) pada jumlah dari keturunan yang dihasilkan oleh betina yang diberi perlakuan UVC yang dihubungkan dengan betina yang tidak diberi perlakuan. Tidak ada efek pada penghasilan keturunan  O. surinamensis, T. castaneum and T. putrescentiae. A.siro spesies yang lebih sensitif pada UVC, oleh karena itu penyinaran 12 detik mungkin sudah terlalu lama untuk menghasilkan efek sub-letal, tetap melalui betina yang aktif dan yang bergerak aktif setelah perlakuan.
3.      Efek UVC pada P.verrucosum : perkecambahan spora dan pemusnahan spora dicapai pada 20.000 dan 25.000 μJ cm-2. ada perbedaan yang signifikan (P< 0,05) yang cocok antara dosis dan garis yang cocok, seharusnya jumlah yang terbatas pada data yang ditunjuk, sebagai 2 dosis tertinggi efektif 100%.
E.     Diskusi
Percobaan ini telah menunjukkan bahwa UVC efektif dalam mengurangi berbagai hama dalam produk yang disimpan. Nilai-nilai ED bervariasi menurut spesies, dimana tungau lebih sensitif dibandingkan dengan kumbang. Foto-reaktivasi hanya signifikan ditunjukkan oleh T. putrescentiae. Agar perawatan untuk sepenuhnya efektif, hama harus bersentuhan langsung dengan UVC untuk durasi yang diperlukan atau dosis yang lebih tinggi mungkin diperlukan. Apa pun yang mungkin untuk melindungi hama dari penyinaran, misalnya, partikel makanan, debu, kotoran, celah dan retakan, akan mempengaruhi keberhasilan.

Tidak ada efek pada produksi keturunan O. surinamensis, T. castaneum dan T. putrescentiae. Namun, ada variasi yang besar dalam jumlah keturunan yang dihasilkan oleh individu betina yang mungkin karena tidak ada kawin setelah terjadi radiasi oleh UVC, variasi peletakan telur atau kematian betina selama percobaan. Serangga juga memiliki kecenderungan untuk berjalan sepanjang tepi cawan petri, yang bertujuan melindungi mereka dari efek UVC. Pengaruh signifikan pada produksi keturunan A.siro kemungkinan terjadi karena sebagian besar betina meninggal selama inkubasi. Hal ini diketahui dari percobaan perkembangan, bahwa A.siro adalah spesies yang paling sensitif terhadap UVC, oleh karena itu pemaparan 12 detik mungkin sudah terlalu lama untuk menghasilkan efek sub letal, tetap melalui betina yang aktif dan yang bergerak aktif setelah perlakuan.

Tugas Ku: Potensi Ekstrak Biji bengkuang (Pachyrhizur erosus (L.) Urban) sebagai Pengendali Hayati (Biokontrol)

MAKALAH
POTENSI EKSTRAK BIJI BENGKUANG (Pachyrhizur erosus (L.) Urban) SEBAGAI PENGENDALI HAYATI






Disusun Oleh:
DIANA PUTRI HAPSARI
M0410018


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2013







BAB I
PENDAHULUAN

            Masalah hama dan penyakit pada tanaman merupakan kendala besar dalam pertanian. Penanganan dari hama maupun penyakit harus cepat diselesaikan agar tanaman tidak rusak berat dan mengalami kerugian. Terdapat beberapa bahan kimia sintetik sebagai pemberantas hama atau insektisida yang digunakan, namun juga menyebabkan efek samping yang dapat membahayakan lingkungan. Maka dari itu, salah satu alternatif dalam penanggulangan populasi vektor penyakit tersebut adalah penggunaan insektisida organik yang berasal dari tumbuhan, walaupun umur residu sangat pendek karena setelah pemakaian akan terurai menjadi senyawa yang tidak berbahaya bagi manusia dan lingkungan.
            Bengkuang atau Pachyrhizus erosus merupakan merupakan salah satu tanaman yang berpotensi sebagai sumber insektisida nabati yang berspektrum luas. Semua bagian tanaman bengkuang kecuali umbi mengandung rotenon. Rotenon ini memiliki sifat insektisida.






BAB II
ISI

  1. Klasifikasi
Kingdom              : Plantae
Sub Kingdom       : Tracheobionta
Super Divisi         : Spermatophyta
Divisi                    : Magnoliophyta
Kelas                    : Magnoliopsida
Sub Kelas             : Rosidae
Ordo                     : Fabales
Famili                   : Fabaceae
Genus                   : Pachyrhizus
Spesies                 : Pachyrhizus erosus (L.) Urban




  1. Deskripsi
Nama daerah dari bengkuang sendiri antara lain singkuwang (Aceh), bangkuwang (Batak, Jawa, Sunda, Kalimantan Selatan), jempiringan (Bali), uwi plisak (Lombok), buri (Bima), uas (Rote), bingkuang (Minang).
Morfologi dari bengkuang antara lain:
1.      Batang: Bengkuang memiliki batang yang merambat dengan panjang 3m – 4m, kadang-kadang lebih panjang, bulat, berambut dan hijau.
2.      Daun: Daunnya tunggal, bentuknya bulat telur atau berbentuk seperti belah ketupat bundar, tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul, pertulangan menyirip, permukaan berbulu panjang 7 – 10 cm, lebar 5 – 9 cm, dan berwarna hijau.
3.      Bunga: Bunga majemuk, bentuk tandan, duduk di ketiak daun terdiri dari 24, tangkai panjang, kelopak berbulu, bentuk lonceng, hijau, kepala putik berbulu, mahkota gundul, bernoda hijau, warna bunga ungu kebiru-biruan.
4.      Polong: Polong dihasilkan bunga, dengan panjang 7 – 14 cm dan lebar l – 2cm, bentuk lancet (seperti ujung tombak), pipih, hijau.
5.      Biji: Biji keras, bentuk ginjal, kuning kotor.
6.      Akar: Akar tunggang dan berumbi. Umbi inilah yang dikenal sebagai buah bengkuang yang dikenal masyarakat.
Tanaman bengkuang merupakan tumbuhan semak, semusim dan membelit. Tumbuh baik di lingkungan lembab panas dan memerlukan musim tanam yang panjang, panas dan bebas bunga es. Tanah lembab bertekstur ringan (tanah yang mudah diolah) dan berdrainase baik, disukai untuk produksi umbi akar berdaging optimum.

  1. Pengendalian Hayati Bengkuang
1.      Kandungan Kimia
Tanaman bengkuang mengandung : saponin, flavonoid dan minyak atsiri. Senyawa lain yang terkandung di dalam biji bengkuang yang mampu mempengaruhi selera makan pada larva antara lain pachirryzida, rotenoid, isoflavonoid dan phenylcoumarine.
a.       Saponin
Senyawa ini terdapat pada daun dan biji bengkuang. Mempunyai sifat menyerupai sabun. Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang kuat yang dapat menimbulkan busa bila dikocok dalam air dan pada konsentrasi yang rendah sering menyebabkan hemolisis sel darah merah. Dalam larutan yang sangat encer saponin sangat beracun untuk ikan, dan tumbuh – tumbuhan yang mengandung saponin telah digunakan sebagai racun ikan selama beratus-ratus tahun. Beberapa saponin juga bekerja sebagai anti mikroba.
b.      Flavonoid
Pada tanaman bengkuang flavonoid juga terdapat pada daun dan bijinya. Dalam tumbuhan tingkat tinggi, flavonoid terdapat baik dalam bagian vegetatif maupun dalam bunga. Beberapa kemungkinan fungsi flavonoid untuk tumbuhan yang mengandungnya antara lain sebagai pigmen bunga yang berperan jelas dalam menarik burung dan serangga penyerbuk bunga, untuk pengaturan tumbuh, pengaturan fotosintesis dan kerja anti mikroba. Efek flavonoid terhadap bermacam – macam organisme sangat banyak diantaranya sebagai inhibitor yang kuat untuk pernafasan dengan menghambat kerja enzim – enzim pernafasan.
c.       Minyak atsiri
Pada tanaman bengkuang minyak atsiri ini hanya terdapat pada bijinya. Berbagai senyawa atsiri yaitu berbagai alkohol, aldehid, keton dan ester yang mudah menguap terdapat dalam tumbuhan walaupun biasanya hanya sedikit sekali. Senyawa ini walaupun dalam konsentrasi rendah dari segi estetika dan niaga penting karena peran yang diberikannya kepada cita rasa dan bau makanan, bunga, parfum dan sebagainya. Minyak atsiri mengandung galangol, galagin, alpinen, kamfer dan metil sinamat yang dilaporkan mempunyai sifat anti bakteri karena mampu membunuh organisme.
Dari hasil analisa Hansberry et, al. (194l) secara Meijer test dan Goodhe test (520 mμ), ternyata Pachyrhizus erosus mengandung gugus rotenon, eroson dan pachyrrizid. Gugus yang mempunyai sifat insektisida adalah rotenon, yang terdapat dalam polong dan biji matangnya. Secara kimiawi rotenone digolongkan kedalam kelompok flavonoid namun umbi bengkoang bebas dari racun. Wujud dari rotenon dapat berwujud kristal berwarna putih sampai kuning dengan titik lebur 163°C dan detoksifikasi dapat terjadi dalam waktu 2 – 3 hari karena udara dan sinar matahari.



2.      Cara Kerja
Pestisida nabati seperti ekstrak biji bengkuang yang dapat mematikan hama dengan cara seperti berikut:
a.       Refelen, yaitu menolak kehadiran serangga terutama disebabkan baunya yang menyengat.
b.      Antifidan, menyebabkan serangga tidak menyukai tanaman, misalnya disebabkan rasa yang pahit.
c.       Mencegah serangga meletakkan telur dan menghentikan proses penetasan telur.
d.      Racun syaraf, serangga yang teracuni akan mati kelaparan yang disebabkan oleh kelumpuhan alat – alat mulut serta sel – sel syaraf.
e.       Mengacaukan hormon di dalam tubuh serangga.
f.       Attraktan, sebagai pemikat kehadiran serangga yang dapat digunakan sebagai perangkap.
Insektisida bengkuang dapat masuk melalui oral dengan membiarkan larva bergerak dan beraktivitas di atas daun yang telah direndam di dalam ekstrak bengkuang selama 10 menit. Penetrasi (penembusan) kutikula biasanya merupakan jalan kecil yang utama, tetapi suatu insektisida juga masuk melalui mulut, sistem pernafasan, dan tempat lain yang mudah diserang seperti antena, mata dan tarsi.
Senyawa aktif pachirryzida, dan rotenon dan rotenoid pada P. erosus, secara umum berfungsi untuk membuat larva P. xylostella menolak untuk makan, akibatnya kebutuhan nutrisi yang diperlukan oleh serangga untuk melakukan berbagai fungsi kehidupan tidak terpenuhi, sehingga serangga akan mati karena kelaparan. Selain itu kondisi larva yang kekurangan nutrisi karena menolak makan akan menjadi lemah, akan turut mempercepat kematian ulat. Pachirryzida yang masuk dalam tubuh ulat maka akan terakumulasi dalam sistem pencernaan ulat, sehingga ulat akan mengalami kematian.
Rotenon menyebabkan kegagalan konduksi saraf karena hambatannya terhadap kerja enzim glutamat oksidase serta daya harnbat rotenone terhadap sistem pernafasan dengan menghambat transport elektron pada hambat rotenone terhadap sistem pernafasan dengan menghambat tansport elektron pada rantai respirasi yang akhirnya akan mengfiambat sintesa ATP sebagai sumber energi.
3.      Target yang dituju
Target yang dituju dengan pemberian ekstrak biji bengkuang menurut Faradita et al (2010) dan Azani (2003) adalah Plutella xylostella dan larva nyamuk Aedes spp.. Pada Plutella xylostella ekstrak bengkuang menyebabkan mortalitas dari hama ulat P. xylostella dan terhadap kematian larva nyamuk Aedes spp..




BAB III
PENUTUP

            Ekstrak biji bengkuang dapat digunakan sebagai pengganti insektisida dari bahan kimiasi sintetik yang dapat menyisakan efek samping pada manusia maupun lingkungan. Ekstrak dari biji bengkuang dapat dimanfaatkan untuk membasmi beberapa hama yang merusak tanaman yaitu hama ulat Plutella xylostella yang biasanya menyerang pada tanaman kubis. Selain itu, ekstrak biji bengkuang dapat menanggulangi tempat perindukan dari larva nyamuk Aedes spp., terutama tempat yang terlindung dari sinar matahari sehingga dapat memberikan umur residu yang agak lama.





DAFTAR PUSTAKA

Azani, Surya. 2003. Pemanfaatan Ekstrak Biji Bengkoang (Pachyrhizus erosus) Sebagai Larvasida terhadap Larva Nyamuk Aedes spp. Padang: Universitas Andalas.
Faradita, Anggina, Hasminar Rachman Fidiastuti, Pratiwi Prananingrum dan Miftahul Jannah. 2010. Efektivitas Penggunaan Ekstrak Biji Bengkuang (Pachyrhizus erosus) terhadap Mortalitas Ulat Plutella xylostella pada Tanaman Kubis. Malang: Universitas Negeri Malang.

http://www.plantamor.com/index.php?plant=929 [Diakses pada tanggal 28 Juni 2013].

Rabu, 17 April 2013

TugasKu: Pencemaran Lingkungan di Area UNS (Universitas Sebelas maret) ~ (Pencemaran Lingkungan)


TUGAS
PENCEMARAN LINGKUNGAN DI AREA UNS






Disusun Oleh:
DIANA PUTRI HAPSARI
M0410018





JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2013





Pencemaran Lingkungan Di Area UNS

            Pencemaran lingkungan merupakan proses masuknya makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain ke dalam lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam (Wahidin, 2008). Yang menyebabkan pencemaran disebut dengan polutan. Suatu zat dapat dikatakan sebagai polutan apabila bila keberadaannya dapa kerugian terhadap makhluk hidup. Menurut Bintoro (2010), syarat suatu zat dapat dikatakan sebagai polutan jika:
1.      Jumlahnya melebihi jumlah normal
2.      Berada pada waktu yang tidak tepat
3.      Berada di tempat yang tidak tepat
Macam-macam pencemaran lingkungan berdasarkan tempatnya, antara lain pencemaran tanah, pencemaran air, pencemaran udara dan pencemaran suara. Sedangkan macam pencemaran lingkungan berdasarkan bahan pencemarnya, yaitu pencemaran kimiawi, pencemaran biologi dan pencemaran fisik.
Menurut macam-macam pencemaran lingkungan tersebut, sepertinya pencemaran tanah di UNS belum terjadi dikarenakan dengan terlihatnya area tanah yang dapat ditumbuhi tanaman dengan baik dan masih banyak pula lahan yang masih hijau serta dihijaukan. Untuk pencemaran air, sepertinya telaga di UNS sudah mulai tercemar karena sudah terjadi perubahan air pada warna dan juga bau. Pencemaran air di UNS mungkin terjadi karena adanya kegiatan pembuangan limbah rumah tangga, dalam artian seperti limbah dari beberapa kantin di UNS serta letak sumber air yang dekat dengan tempat pembuangan sampah di luar area UNS.
Pencemaran udara di lingkungan UNS menurut saya belum begitu signifikan, walaupun banyak aktivitas kendaraan bermotor yang berlalu-lalang. Perubahan yang terjadi belum begitu signifikan kemungkinan dikarenakan banyak adanya tumbuhan yang ditanam di area UNS sehingga masih mampu menyerap gas buangan dari kendaraan bermotor atau aktivitas lainnya. Suara-suara yang terjadi di UNS sudah bisa disebut pencemar, karena semua suara tersebut sudah mengganggu mahasiswa, dosen, pekerja dan semuanya yang berada di UNS. Suara yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor si area UNS sudah masuk ke bising karena keseringannya para pengendara motor menggunakan kendaraannya. Selain suara dari kendaraan bermotor, kadang pula jika terdapat kegiatan pembangunan di area UNS, suara yang dihasilkan juga cukup mengganggu pendengaran. Jadi menurut saya, suara itu semua sudah cukup mengakibatkan pencemaran suara.
Sedangkan pencemaran yang berdasarkan bahan pencemarnya, yaitu pencemaran kimiawi dan pencemaran biologi, sepertinya di area UNS belum cukup tinggi. Untuk pencemaran fisik, sudah terjadi pencemaran namun masih ringan, karena hanya tempat-tempat tertentu yang tercemar dan itu pun tidak begitu banyak pencemar yang ada. Secara keseluruhan, pencemaran yang terjadi di area UNS masih dalam tingkatang yang ringan, namun alangkah baiknya jika mencegahnya daripada mengatasinya karena dalam proses pemulihan lingkungan tidak mudah untuk mengembalikan ke keadaan semula.

TugasKu: Klasifikasi Makhluk Hidup secara Molekuler dan Morfologi (Genetika)


TUGAS GENETIKA
KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP SECARA MOLEKULER DAN MORFOLOGI




Disusun Oleh:
DIANA PUTRI HAPSARI
M0410018

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2013







Klasifikasi Makhluk Hidup secara Molekuler dan Morfologi

            Sebenarnya tujuan dari pengklasifikasian makhluk hidup untuk  mempermudah mengenal sifat suatu spesies lain ang merupakan anggota kelompok yang sama atau dengan melihat nama kelompoknya. Tumbuan dan hewan sangat banyak dan beragam sehingga untuk mempermudah dalam mengenalnya dilakukanlah klasifikasi. Pengelompokan makhluk hidup menurut persamaan ciri yang dimiliki merupakan klasifikasi yang dari dulu digunakan sampai sekarang.
Berdasarkan cara pengelompokannya , sistem klasifikasi dibedakan menjadi sistem artifisial, sistem alamiah dan sistem filogeni. Sistem artifisial atau buatan merupakan klasifikasi yang dilakukan berdasarkan struktur morfologis, anatomi dan fisiologis. Fisiologis disini dititik beratkan pada alat perkembangbiakan dan habitat makhluk hidup. Sistem alamiah adalah klasifikasi yang terbentuk secara alami atau yang sesuai menurut alam tentang banyak sedikitnya persamaan, terutama morfologi. Sistem filogeni adalah klasifikasi yang berdasarkan pada teori evolusi. Teori evolusi menyatakan bahwa spesies yang berada di permukaan bumi akan terus mengalami perubahan yang sejalan dengan perubahan lingkungan dan akhirnya menghasilkan spesies yang berbeda daripada spesies awal tadi.
            Dua sistem klasifikasi awal, yaitu sistem artifisial dan sistem alamiah, lebih mengacu pada morfologi makhluk hidup dalam pengelompokannya. Sedangkan sistem filogeni meliputi perubahan susunan gen yang terdapat di dalam tubuh makhluk hidup. Perubahan gen tersebut akan mengakibatkan perubahan sifat organisme tersebut. Sifat makhluk hidup yang berubah dapat berupa bentuk fisik yang terjadi karena adanya ekspresi dari genotip di dalam tubuh sehingga mempengaruhi fenotipnya.  Proses dari sistem filogeni ini berlangsung lambat dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Dengan sistem ini dapat mengetahui dengan jelas jarak hubungan kekerabatan antar takson. Semakin dekat jaraknya maka semakin banyak persamaan yang ada.
            Eduard Chatton (1939) juga menggunakan dasar klasifikasi dengan mengetahui ada tidaknya membran yang membungkus inti sel, yang kemudian mengklasifikasikan antara eukariotik dan prokariotik. Walaupun ada perbedaan antara klasifikasi menurut morfologi dan molekuler, kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan karena akhir dari hierarki klasifikasi yang paling rendah adalah spesies yang merupakan populasi yang setiap individunya memiliki kesamaan pada sifat morfologi, anatomi, fisiologi, jumlah kromosom dan susunan kromosomnya yang berkembang bersama. Namun semakin majunya teknologi yang ada maka sistem klasifikasi pun akan semakin berkembang terutaman dalam biologi molekuler.

Kamis, 21 Maret 2013

Funny Momment

Check This OUT!!!!

First Story:
"Pemakaman Cavia cobaya"
Diana: halllooooo!!!!!! ada yang gawaaaat!!!! kesiniiii.... summon: ECBA
Diana: Akhirnya kalian datang juga... mereka telah meninggalkan kita, marmut-marmut yang imut nan lembut
mereka telah menjadi korban keganasan si Dian (dari kiri no.2),
padahal mereka sudah menjadi simbol keluarga ECBA selama 3 jam tadi... T.T
Rini: Biarlah Dianaaaaaa.... biarkan si Cavi, Aco, dan Baya tenang disyuurrrga sana...
Arina: Sudah beluuum? *berbisik  aku wes luwe lek, ayo madang
Mutia: Sek tow, tak nangis 5 menit lagi....
Diana: OK! mengheningkan cipta dimulai....

Second Story:
"Lintang vs Mutia part 1"
Mutia (berkerudung abu2): cheese!!!!
Lintang: cheese... gek wes yooow, aku pengen muleh wes luwe

Mutia: Siiikkk tow tang, one more pose again!! haiiiaaa *pose ala kungfu chef
Lintang: Aarrggh, aku rep muleeeh, lepaskan dirikuuu.... *like drama
Third Story:
"Anak dan Ibu Part 1"
(Kita anggap orang yang berkerudung coklat di depan kamera hanya sebagai figuran saja)
Lintang: Nak, tolong ibu mu ini yang belum belajar taksonomi hewaaaan... T,T
Diana: (sebagai anak yang baik) OK! jawab pertanyaan ku yaaa...
Lintang: OK!!
Diana: Apa bedanya gajah dengan semut?
Lintang: Opo yoooowwww??? (jawa ne metu)
Diana: mudeng ngga?
Lintang: Opo diiii??
Diana: beda ne ki tang.... TIPIIIISS
Diana: Arraseo?
Lintang: Ooowwww.... ok
Diana: Kita masuk ke pertanyaan selanjutnya...
(Entah mereka dapet nilai berapa akhirnya, tapi saya ngga yakin bagus!)
Fourth Story:
"Geng Pembantai tapi Cute"
(Pada suatu hari terdampar sesosok blue whale di mushola kampus ku, dia terlihat tak berdaya)
(Kemudian datanglah segerombolan cewe2 kece)
Dian: Apa ini?!!! berani2nya dia masuk wilayah guee!!!
Diana: Itu blue whale kesasar boossss!
Dian: Whaat??!! hajaaaaaarr girlssss
Diana: OKEEE!!!
BW *Blue Whale: Jangaaaaannn!!!!
Dian: Waaaiiitt!!! Ada wartawaaan!!! CUTE mode ON!
Diana: siiip
Dian:  :-)
Diana:  :-)
BW: Alhamdulillahhh!!!!
PEACEEE!!!! (^-^)V
Fifth Story:
"Pas Ngga?"
Di tengah panasnya hari itu, keluarga ECBA mengadakan ES Buah Bareng/ BUBAR
Other: Diaaaan, cicipi ikiiii!!
Dian (berkerudung abu2): Ok, hmmmm.... slurp *nyicipi
Dian: hmmm.... *bingung gimana mengutarakan rasanya .... hmmmmm
Dian: ........... *masih bingung (ini rasa apa ya?)
Diana: Aduuuh, tangan kuuu
Dian: Di, coba cicipi iki....
Diana: Ndi... Slurp
Dian: Piye? hmm, rasane ki rada ngambang ke awang2 ngga?
Diana: hmmmm...... *mikir
Dian: hmmmm.... *mikir
Diana: hmmm..... *mikir
Dian: Genae rasane iki piye tow?
Diana: Tak mikir sek....
Diana: huweeeekk... ra enaaaak
Dian: Enaaaakkkk!!! kenapa aku lama sekali menilai minuman terenak didunia ini?
Diana: kaya ngene kiiii??? Enak?? tsk tsk tsk

Sekian dulu ya funny story-nya.... cerita hanya rekayasa semata jika ada kesamaan percakapan itu bukan masalah gue, untuk para pemeran di "Funny Story" i just wanna say "SORRY", hehehehe



Minggu, 10 Februari 2013

Japanese Festival: Pamflet Sekai No Uta (SMA 7 Surakarta)

Ini dia acara yang aku tunggu2!!!
mari berlomba lagi di sini, tapi kenapa harus di Sriwedari ya??
tapi event2nya jadi tambah keren2 niiih... dateng yuuukkk


tunggu postingan selanjutnya, tentang acara japan festival yang bakalan aku datangii... hehehe  :)